Nama Kelompok 5 :
Ananda Putri Al Ghufroni [03]
Bayu Aprilia [05]
Mega Rahmatika [15]
Supaidatul Jannah [33]
Pinky Alvi Wiyono Putro [24]
A.Pattimura
Angkat Senjata
Maluku
dengan rempah-rempahnya memang bagaikan ‘mutiara dari timur’ , yang senantiasa
diburu oleh orang orang Barat. Namun kekuasaan orang-orang Barat telah merusak
tata ekonomi dan pola perdagangan bebas yang telah lama berkembang di
Nusantara. Pada masa pemerintahan Inggris di bawah Raffles keadaan Maluku
relative lebih tenang karena Inggris bersedia membayar hasil bumi rakyat
Maluku. Kegiatan kerja rodi mulai dikurangi . Bahkan Para pemuda Maluku juga
diberi kesempatan untuk bekerja pada dinas angkatan perang Inggris. Tetapi pada
pemerintahan colonial Belanda , keadaan
kembali berubah . Kegiatan monopoli di Maluku semakin diperketat .
Dengan demikian beban rakyat semakin berat. Sebab selain penyerahan wajib ,
masih juga dikenai kewajiban kerja paksa , penyerahan ikan asin , dendeng dan
kopi. Kalau ada penduduk yang melanggar akan ditindak tegas.
Kedatangan bangsa Belanda di Kepulauan Maluku dan pendirian
persekutuan dagang VOC hingga pemberlakuan sistem monopoli perdagangan banyak
menimbulkan penderitaan, kegelisahan, dan permusuhan untuk rakyat Maluku.
Penindasan VOC terhadap rakyat Maluku terasa semakin berat, apalagi ketika
sistem monopoli diawasi dengan pelayaran Hongi dan diberlakukannya hak
esktirpasi*.
Pada
bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat Maluku di Saparua yang dipimpin oleh
Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Pattimura,
memiliki nama asli Thomas Matulessy (lahir di Hualoy, Hualoy, Seram
Selatan, Maluku, 8
Juni 1783). .Ia adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina
Silahoi. Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari
Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau.
Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di
Seram Selatan.Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat
itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk
agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau
kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada
diri Pattimura itu bermula. Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah
berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Pada tahun 1816
pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan
kemudian Belanda menetrapkan kebijakan
politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta
pelayaran Hongi (Hongi Tochten), Kedatangan kembali kolonial Belanda pada
tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat.
Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan
yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata
di bawah pimpinan Kapitan Pattimura Maka pada waktu pecah perang melawan
penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan
rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman
dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan
Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. Benteng kompeni Duurstede di
Saparua diserbu dan direbut rakyat Maluku hingga banyak pasukan dan penghuni di
benteng terbunuh.
Perlawanan rakyat
Maluku berikutnya meluas hingga ke Ambon dan ke pulau-pulau sekitarnya,
yang berlangsung hingga beberapa bulan lamanya dan dikuasai oleh rakyat yang
dipimpin oleh Kapitan Pattimura, Anthony Rybok, Paulus-Paulus Tiahahu, Martha
Christina Tiahahu, Latumahina, Said Perintah, dan Thomas Pattiwael.
Pasukan Belanda mengalami kewalahan
dalam menghadapi perlawanan rakyat Pattimura hingga pada bulan Juli 1817 dan
bulan September 1817, Belanda mendatangkan pasukan Kompeni dari Ambon yang
dipimpin oleh Kapten Lisnet.
Pada bulan Oktober 1817, pasukan
Belanda mulai menyerang rakyat Maluku secara besar-besaran hingga dapat
memadamkan perlawanan rakyat dan menangkap Kapitan Pattimura (tahun 1817) yang
kemudian dihukum mati pada tanggal 16 Desember 1817.
Sebelum menghadapi eksekusi hukuman
gantung, Pattimura masih sempat memberi semangat perlawanan terhadap rakyat
Maluku, yaitu "Pattimura tua boleh mati, tetapi akan muncul
Pattimura-Pattimura muda."
* Salah satu contoh bentuk pelaksanaan hak ekstirpasi adalah
penanaman pohon cengkih yang hanya boleh dilakukan di Pulau Ambon dan
sekitarnya, serta penanaman pohon pala yang hanya boleh dilakukan di Pulau
Banda.
B.
Perang Padri
Perang Padri adalah
peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat) dan
sekitarnya terutama di kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.
Perang ini merupakan
peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum
berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
Istilah Padri berasal dari kata Pidari atau Padre, yang berarti ulama yang
selalu berpakaian putih. Para pengikut gerakan padri biasanya memakai jubah
putih. Sedangkan kaum adat memakai pakaian hitam.
Selain itu juga ada yang
berpendapat bahwa disebut gerakan Padri karena para pemimpin gerakan ini adalah
orang Padari, yaitu orang-orang yang berasal dari Pedir yang telah naik haji ke
Mekah melalui pelabuhan Aceh yaitu Pedir.
Adapun tujuan dari gerakan
Padri adalah memperbaiki masyarakat Minangkabau dan mengembalikan mereka agar
sesuai dengan ajaran Islam yang murni yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist.
Gerakan ini mendapat sambutan baik di kalangan ulama, tetapi mendapat pertentangan
dari kaum adat. (Mawarti, Djoened PNN, 1984:169).
Sebab Awal Terjadinya Perang Padri
Pada awalnya perang Padri
disebabkan pertentangan antara golongan Adat dengan golongan Padri.
Masing-masing berusaha untuk merebut pengaruh di masyarakat.
Kaum adat adalah orang-orang
yang masih teguh dalam mempertahankan adat didaerahnya sehingga mereka tidak
berkenan dengan pembaharuan yang dibawa oleh kaum Padri. Agama Islam yang
dijalankan kaum adat sudah tidak murni, tetapi telah terkontaminasi atau telah
terkontaminasi dengan budaya setempat.
Kaum Padri adalah golongan
yang berusaha menjalankan Agama Islam secara murni sesuai dengan Al-Qur’an dan
Hadist.
Setealah kaum Adat mengalami kekalahan, mereka meminta bantuan kepada Belanda
yang akhirya konflik ini berkembang menjadi konflik antara kaum Padri dengan
Belanda.
Ilustrasi Perang Padri sumber : wikipedia
Periodesasi Gerakan Padri
Secara umum perang Padri
dibagi dalam dua periode yaitu :
a. Periode 1803 – 1821 (Perang antara Kaum Padri Melawan kaum Adat)
1.) Sebab terjadinya Perang
Pada tahun 1803, Minangkabau
kedatangan tiga orang yang telah menunaikan ibadah haji di Mekah, yaitu: H.
Miskin dari pantai Sikat, H. Sumanik dari Delapan Kota, dan H. Piabang dari
Tanah Datar. Di Saudi Arabia mereka memperoleh pengaruh gerakan Wahabi, yaitu
gerakan yang bermaksud memurnikan agama Islam dari pengaruh-pengaruh yang tidak
baik. Mereka yang hendak menyebarkan aliran Wahabi di Minangkabau menamakan
dirinya golongan Paderi (Kaum Pidari).
Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki
kaum Padri terhadap kaum Adat karena kebiasaan-kebiasaan buruk yang marak
dilakukan oleh kalangan masyarakatdi kawasan Kerajaan Pagaruyung dan
sekitarnya. Kebiasaan buruk yang dimaksud sepertiperjudian, penyabungan ayam,
penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat
matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual
formal agama Islam. kebiasaan ini semakin meluas dan mempengaruhi kaum mudanya.
Ternyata aliran wahabi ini
ditentang oleh Kaum Adat (ajaran Islam yang bercampur dengan adat setempat)
yang terdiri dari pemimpin-pemimpin adat dan golongan bangsawan.
Pertentangan antara kedua
belah pihak itu mula-mula akan diselesaikan secara damai, tetapi tidak terdapat
persesuaian pendapat. Akhirnya Tuanku Nan Renceh menganjurkan penyelesaian
secara kekerasan sehingga terjadilah perang saudara yang bercorak keagamaan
dengan nama Perang Padri (1803 – 1821).
2.) Jalanya Perang
Perang saudara ini mula-mula
berlangsung di Kotalawas. Selanjutnya menjalar ke daerah-daerah lain. Pada
mulanya kaum Paderi dipimpin Datuk Bandaro melawan kaum Adat di bawah pimpinan
Datuk Sati. Karena Datuk Bandaro meninggal karean terkena racun, selanjutnya
perjuangan kaum Padri dilanjutkan oleh Muhammad Syahab atau Pelo (Pendito)
Syarif yang kemudian dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol karena berkedudukan
di Bonjol. Tuanku Imam merupakan anak dari Tuanku Rajanuddin dari Kampung
Padang Bubus, Tanjung Bungo, daerah Lembah Alahan Pajang.
Dalam perang itu, kaum Padri mendapat
kemenangan di mana-mana. Sejak tahun 18815 kedudukan kaum Adat makin
terdesakkarena keluarga kerajaan Minangkabau terbunuh di Tanah Datar, sehingga
kaum Adat (penghulu) dan keluarga kerajaan yang masih hidup meminta bantuan
kepada Inggris (di bawah Raffles yang saat itu masih berkuasa di Sumatera
Barat).
Karena Inggris segera
menyerahkan Sumatera Barat kepada Belanda, maka kaum Adat meminta bantuan
kepada Belanda, dengan janji kaum Adat akan menyerahkan kedaulatan seluruh
Minangkabau (10 Februari 1821). Permintaan itu sangat menggembirakan Belanda
yang memang sudah lama mencari kesempatan untuk meluaskan kekuasaannya ke
daerah tersebut.
3.) Pemimipin yang terlibat
• Kaum Pidari dipimpin oleh Datuk Bandaro, Datuk Malim Basa,Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, dan Tuanku Nan Cerdik.
• Kaum Adat dipimpin oleh Datuk Sati.
b. Periode 1821 – 1838 (Perang antara Kaum Padri
Melawan Belanda)
Sejak disetujuinya perjanjian
antar kaum adat dengan Belanda mengenai penyerahan kerajaan Minangkabau kepada
Belanda pada tanggal 10 Februari 1821, hal ini menjadi tanda dimulainya
keikutsertaan Belanda dalam melawan kaum Padri.
Dalam perang antara kaum Padri melawan Belanda, jalanya perang dibagi menjadi
tiga periode:
1.) Periode I (Tahun 1821 – 1825)
Periode pertama ini ditandai
dengan meletusnya perlawanan di seluruh daerah Minangkabau. Di bawah pimpinan
Tuanku Pasaman, kaum Paderi menggempur pos-pos Belanda yang ada di Semawang,
Sulit Air, Sipinan, dan tempat-tempat lain. Pertempuran menimbulkan banyak
korban di kedua belah pihak. Tuanku Pasaman, kemudian mengundurkan diri ke
daerah Lintau, sebaliknya Belanda yang telah berhasil menguasai lembah Tanah
Datar, mendirikan benteng pertahanan di Batusangkar ( Fort Van den Capellen)
dan Benteng Fort de Kock di Bukittinggi.
Ternyata Belanda hanya dapat bertahan di benteng-benteng itu saja. Daerah luar
benteng masih tetap dikuasai oleh kaum Pidari. Belanda mengalami kekalahan di
mana-mana, bahkan pernah mengalami kekalahan total di Muara Palam dan di Sulit
Air.
Untuk itu, Belanda mulai
mendekati kaum Padri ntuk melakukan perdamaian dan pada tanggal 22 Januari 1824
Belanda berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum Padri di Masang dan di
daerah VI Kota, isinya: kedua belah pihak akan mentaati batasnya masing-masing.
Adanyaperundingan ini sebenaranya hanya menguntungkan pihak Belanda untk
menunda waktu guna memperkuat diri.
Setelah berhasil memperkuat pertahannanya, Belanda tidak mau mentaati
perjanjian dan dua bulan kemudian Belanda meluaskan daerahnya.
2.) Periode II (Tahun 1825 – 1830)
Pada periode ini ditandai
dengan meredanya pertempuran. Kaum Padri perlu menyusun kekuatan, sedangkan
pihak Belanda dalam keadaan sulit, sebab baru memusatkan perhatiannya dan
pengeriman pasukan untuk menghadapi perlawanan Diponegoro di Jawa Tengah.
Belanda mencari akal agar
dapat berdamai dengan kaum Padri. Dengan perantaraan seorang bangsa Arab yang
bernama Said Salima ‘Ijafrid, Belanda berhasil mengadakan perdamaian dengan
kaum Padri tanggal 15 November 1825 di Padang, yang isinya:
• Kedua belah pihak tidak akan saling serang menyerang.
• Kedua belah pihak saling melindungi orang-orang yang sedang pulang kembali
dari pengungsian.
• Kedua belah pihak akan saling orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan
berdagang.
• Belanda akan mengakui kekuasaan Tuanku-Tuanku di Lintau, Limapuluhkota,
Telawas dan Agam.
3.) Periode III (Tahun 1830-1838)
Periode ketiga ini ditandai
dengan perlawanan di kedua belah pihak makin menghebat. Perang Diponegoro di
Jawa Tengah telah dapat diselesaikan Belanda dengan tipu muslihatnya.
Perhatiannya lalu dipusatkan lagi ke Minangkabau. Maka berkobarlah Perang Padri
periode ketiga.
Belanda telah mengingkari Perjanjian Padang. Pertempuran mulai berkobar di
Naras daerah Pariaman. Naras yang dipertahankan oleh Tuanku Nan Cerdik diserang
oleh Belanda sampai dua kali tetapi tidak berhasil. Setelah Belanda menggunakan
senjata yang lebih lengkap di bawah pimpinan Letnan Kolonel Elout yang dibantu
Mayor Michiels, Naras dapat direbut oleh Belanda. Tuanku Nan Cerdik menyingkir
ke Bonjol, selanjutnya daerah-daerah kaum Pidari dapat direbut oleh Belanda
satu demi satu, sehingga pada tahun 1832 Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda.
Pada tahun 1832, Tuanku Imam
Bonjol berdamai dengan Belanda. Akan tetapi ketenteraman itu tidak dapat
berlangsung lama, karena rakyat diharuskan:
• Membayar cukai pasar dan cukai mengadu ayam.
• Kerja rodi untuk kepentingan Belanda.
Dengan hal-
hal tersebut di atas, sadarlah kaum Adat dan kaum Padri bahwa
sebenarnya mereka itu hanya diperalat oleh Belanda. Perasaan nasionalisme mulai
timbul dan menjiwai mereka masing-masing. Selanjutnya terjadilah perang nasional
melawan Belanda. Pada tahun 1833 seluruh rakyat Sumatera Barat serentak
menghalau Belanda. Bonjol dapat direbut kembali dan semua pasukan Belanda di
dalamnya dibinasakan. Karena itu Belanda mulai mempergunakan siasat adu domba (devide
et empera).
Dikirimkanlah Sentot beserta
pasukan-pasukannya yang menyerah kepada Belanda waktu Perang Diponegoro keSumatera
Barat untuk berperang melawan orang-orang sebangsanya sendiri. Tetapi setelah
Belanda mengetahui bahwa Sentot mengadakan hubungan dengan kaum Padri secara
rahasia, Belanda menjadi curiga. Pasukan Sentot ditarik kembali ke Batavia dan
Sentot diasingkan ke Bengkulu.
Untuk mengakhiri Perang Padri
itu, Belanda berusaha menarik hati para raja di Minangkabau dengan cara mengeluarkan
Plakat Panjang (1833) yang isinya:
1. Penduduk dibebaskan dari pembayaran pajak berat dan pekerjaan rodi.
2. Perdagangan hanya dilakukan dengan Belanda saja.
3. Kepala daerah boleh mengatur pemerintahan sendiri, tetapi harus menyediakan
sejumlah orang untuk menahan musuh dari dalam atau dari luar negeri.
4. Para pekerja diharuskan menandatangani peraturan itu. Mereka yang melanggar
peraturan dapat dikenakan sanksi.
Akhir Perang Padri
Di tahun 1835 kaum Padri di
Bonjol mulai mengalami kemunduran, hal tersebut disebabkan ditutupnya
jalan-jalan penghubung dengan daerah lain oleh paskan Belanda. Pada tanggal
11-16 Juni 1835 sayap kanan pasukan Belanda berhasil menutup jalan yang
menghubungkan benteng Bonjol dengan daerah barat dan menembaki benteng Bonjol.
Setelah daerah-daerah sekitar
Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda,. Membaca situasi yang gawat ini, pada
tanggal 10 Agustus 1837, Tuanku Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai.
Belanda mengharapkan bahwa perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi
Belanda menduga bahwa ini merupakan siasat dari Tuanku Imam Bonjol guna
mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang
yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk
mengetahui kekuatan musuh di luar benteng.
Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran pada
tanggal 12 Agustus 1837. Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat
menduduki benteng Bonjol, yang didahului dengan pertempuran yang sengit.
Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam
jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban
berjatuhan dari kedua belah pihak. Pasukan Padri terdesak dan benteng Bonjol
dapat dimasuki oleh pasukan Belanda.
Pada tanggal 25 Oktober 1837
Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah kepada Belanda. Tuanku
Imamm Bonjol kemudian dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Pada tanggal 19 Januari
1839 dibuang ke Ambon, lalu pada tahun 1841 dipindahkan ke Manado hingga
meninggal dunia pada tanggal 6 November 1864.
Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti perlawanan kaum Padri
telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku
Tambusi, namun Tuanku Tambusi berhasil dikalahkan oleh Belanda pada tanggal 28
Oktober 1838.
Dengan demikian, secara umum
perlawanan kaum Padri dapat dipatahkan pada akhir tahun 1838. Maka kekuasaan
Belanda mulai sejak itu ternanam di Sumatra Barat.
C.Perang Diponegoro
Praktik kolonialisme
dan imperialisme yang dilakukan bangsa Belanda di Nusantara
telah menimbulkan penderitaan bagi rakyat pribumi. Hal tersebut mengakibatkan
berbagai bentuk perlawanan bersenjata yang dilakukan rakyat di berbagai daerah
di Indonesia, salah satunya adalah perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran
Diponegoro. Perang Diponegoro disebut-sebut sebagai perlawanan rakyat
terbesar di Pulau Jawa selama pemerintahan kolonial Belanda. Perang Diponegoro
berlangsung selama lima tahun yaitu antara tahun 1825-1830 dan diperkirakan
memakan korban hampir 200.000 dari kedua belah pihak.

Pangeran Diponegoro adalah seorang bangsawan dari
Kesultanan Yogyakarta dan merupakan putra Sultan Hamengkubuwono III. Pada
zamannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram khususnya Kesultanan Yogyakarta
menjadi semakin sempit karena banyak daerah yang di ambil alih oleh pemerintah
kolonial Belanda. Di lingkungan istana Yogyakarta sendiri terdapat dua
golongan, satu golongan berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda, sementara
pihak lain menentang pemerintah Belanda. Pangeran Diponegoro merupakan salah
satu bangsawan yang menentang kolonial Belanda karena telah melihat berbagai
penindasan yang mereka lakukan kepada rakyat. Beliau akhirnya lebih memilih
untuk mengasingkan diri dari istana dan menetap di Desa Tegalrajo, Yogyakarta.
Di Desa inilah Pangeran Diponegoro menjalani hidup sebagai rakyat biasa namun
diam-diam mulai menyusun kekuatan untuk melawan Belanda.
Penyebab Perang Diponegoro
1. Semakin menyempitnya daerah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta.
2. Penderitaan rakyat akibat kerja rodi dan diberlakukannya berbagai macam
pajak.
3. Tindakan Belanda yang sering ikut campur dalam urusan pemerintahan
Kesultanan Yogyakarta.
4. Masuknya budaya barat yang bertentangan dengan Islam dan budaya setempat.
5. Munculnya beberapa pejabat istana yang berkhianat dan mendukung Belanda.
6. Dibongkarnya makam leluhur Pangeran Diponegoro secara sepihak oleh Belanda.
Bermula
dari insiden anjir
Sejak tahun 1823,
Smissaert diangkat sebagai residen di Yogyakarta. Tokoh Belanda ini dikenal
sebagai tokoh yang sangat anti terhadap Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu,
Smissaert bekerja sama dengan Patih Danurejo berusaha menyingkirkan Pangeran
Diponegoro dari istana Yogyakarta. Pada suatu hari di tahun 1825 Smissaert dan
Patih Danurejo dalam rangka membuat jalan baru memerintahkan anak buahnya untuk
memasang anjir (pancang/patok). Secara sengaja pemasangananjir ini
melewati pekarangan milik Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa izin. Pangeran
Diponegoro memerintahkan rakyat untuk mencabuti anjir tersebut.
Kemudian Patih Danurejo memerintahkan memasang kembali anjir-anjir itu
dengan dijaga pasukan Macanan (pasukan pengawal kepatihan). Dengan
keberaniannya pengikut Pangeran Diponegoro mencabuti anjir/patok-patok
itu dan digantikannya dengan tombak-tombak mereka. Berawal dari insiden anjir inilah
meletus Perang Diponegoro.
Kala itu tanggal 20
Juli 1825 sore hari, rakyat Tegalreja berduyun-duyun berkumpul di dalem
Tegalreja dengan membawa berbagai senjata seperti pedang, tombak, lembing dan
lain-lain. Mereka menyatakan setia kepada Pangeran Diponegoro dan mendukung
perang melawan Belanda. Belanda datang dan mengepung dalem Tegalreja.
Pertempuran sengit antara pasukan Diponegoro dengan serdadu Belanda tidak dapat
dihindarkan. Tegalreja dibumi hangus. Dengan berbagai pertimbangan, Pangeran
Diponegoro dan pasukannya menyingkir ke arah selatan ke Bukit Selarong.
Pangeran Diponegoro
adalah pemimpin yang tidak individualis. Beliau sangat memperhatikan
keselamatan anggota keluarga dan anak buahnya. Sebelum melanjutkan perlawanan
Pangeran Diponegoro harus mengungsikan anggota keluarga, anak-anak dan
orang-orang yang sudah lanjut usia ke Dekso (daerah Kulon Progo). Untuk
mengawali perlawanannya terhadap Belanda Pangeran Diponegoro membangun benteng
pertahanan di Gua Selarong. Dalam memimpin perang ini Pangeran Diponegoro
mendapat dukungan luas baik masyarakat, para punggawa kerajaan dan para bupati.
Tercatat 15 dari dari 29 pangeran dan 41 dari 88 bupati bergabung dengan
Pangeran Diponegoro.
Mengatur
strategi dari Selarong
Dari Selarong, Pangeran
Diponegoro menyusun strategi perang. Dipersiapkan beberapa tempat untuk markas
komando cadangan. Kemudian Pangeran Diponegoro menyusun langkah-langkah. (1).
Merencanakan serangan ke keraton Yogyakarta dengan mengisolasi pasukan Belanda
dan mencegah masuknya bantuan dari luar. (2). Mengirim kurir kepada para bupati
atau ulama agar mempersiapkan peperangan melawan Belanda. (3) Menyusun daftar
nama bangsawan, siapa yang sekiranya kawan dan siapa lawan. (4). Membagi
kawasan Kesultanan Yogyakarta menjadi beberapa mandala perang, dan mengangkat
para pemimpinnya. Pangeran Diponegoro telah membagi menjadi 16 mandala perang,
misalnya: Yogyakarta dan sekitarnya di bawah komando Pangeran Adinegoro (adik
Diponegoro) diangkat sebagai patih dengan gelar Suryenglogo. Bagelen diserahkan
kepada Pangeran Suryokusumo dan Tumenggung Reksoprojo. Perlawanan di daerah
Kedu diserahkan kepada Kiai Muhammad Anfal dan Mulyosentiko. Bahkan di daerah
Kedu Pangeran Diponegoro juga mengutus Kiai Hasan Besari mengobarkan Perang
Sabil untuk memperkuat pasukan yang telah ada. Pangeran Abubakar didampingi
Pangeran Muhammad memimpin perlawanan di Lowanu. Perlawanan di Kulon Progo
diserahkan kepada Pangeran Adisuryo dan Pangeran Somonegoro. Yogyakarta bagian
utara dipimpin oleh Pangeran Joyokusumo. Yogyakarta bagian timur diserahkan
kepada Suryonegoro, Somodiningrat, dan Suronegoro. Perlawanan di Gunung Kidul
dipimpin oleh Pangeran Singosari. Daerah Plered dipimpin oleh Kertopengalasan.
Daerah Pajang diserahkan kepada Warsokusumo dan Mertoloyo, dan daerah Sukowati
dipimpin oleh Tumenggung Kertodirjo dan Mangunnegoro. Gowong dipimpin oleh
Tumenggung Gajah Pernolo. Langon dipimpin oleh Pangeran Notobroto Projo. Serang
dipimpin oleh Pangeran Serang.
Sebagai pucuk pimpinan
Pangeran Diponegoro didampingi oleh Pangeran Mangkubumi (paman Pangeran
Diponegoro), Ali Basyah Sentot Prawirodirjo sebagai panglima muda, dan Kiai
Mojo bersama murid-muridnya. Nyi Ageng Serang yang sudah berusia 73 tahun
bersama cucunya R.M. Papak bergabung bersama pasukan Pangeran Diponegoro. Nyi
Ageng Serang (nama aslinya R.A. Kustiah Retno Edi), sejak remaja sudah anti
terhadap Belanda dan pernah membantu ayahnya (Panembahan Serang) untuk melawan
Belanda.
Pada tahun-tahun awal
Pangeran Diponegoro mengembangkan semangat “Perang Sabil”, perlawanannya
berjalan sangat efektif. Pusat kota dapat dikuasai. Gerakan pasukan Pangeran
Diponegoro bergerak ke timur dan dapat menaklukan Delanggu dalam rangka
menguasai Surakarta namun, pasukan Pangeran Diponegoro dapat ditahan oleh
pasukan Belanda di Gowok. Secara umum dapat dikatakan pasukan Pangeran
Diponegoro mendapatkan banyak kemenangan. Beberapa pos pertahanan Belanda dapat
dikuasai. Untuk memperkokoh kedudukan Pangeran Diponegoro, oleh para ulama dan
pengikutnya ia dinobatkan sebagai raja dengan gelar: Sultan Abdulhamid
Herucokro (Sultan Ngabdulkamid Erucokro).
Perluasan
perang di berbagai daerah
Perlawanan Pangeran
Diponegoro terus meningkat. Beberapa pos pertahanan Belanda dapat dikuasai. Pergerakan
pasukan Pangeran Diponegoro meluas ke daerah Banyumas, Kedu, Pekalongan,
Semarang dan Rembang. Kemudian ke arah timur meluas ke Madiun, Magetan, terus
Kediri dan sekitarnya. Perang yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro telah
mampu menggerakkan kekuatan di seluruh Jawa. Oleh karena itu, Perang Diponegoro
sering dikenal dengan Perang Jawa. Semua kekuatan dari rakyat, bangsawan dan
para ulama bergerak untuk melawan kekejaman Belanda.
Menghadapi perlawanan
Diponegoro yang terus meluas itu, Belanda berusaha meningkatkan kekuatannya.
Beberapa komandan tempur dikirim ke berbagai daerah pertempuran. Misalnya
Letkol Clurens dikirim ke Tegal dan Pekalongan, kemudian Letkol Diell ke
Banyumas. Jenderal de Kock sebagai pemimpin perang Belanda berusaha meningkatkan
kekuatannya. Untuk menambah kekuatan Belanda, juga didatangkan bantuan tentara
Belanda dari Sumatera Barat.
Belanda berusaha
menghancurkan pos-pos pertahanan pasukan Pangeran Diponegoro. Sasaran pertama
Belanda yaitu pos pertahanan Pangeran Diponegoro di Gua Selarong. Tanggal 4
Oktober 1825 pasukan Belanda menyerang pos tersebut. Tetapi ternyata pos Gua
Selarong sudah kosong. Ini memang sebagai bagian strategi Pangeran Diponegoro.
Pos pertahanan Diponegoro sudah dipindahkan ke Dekso di bawah pimpinan Ali
Basyah Sentot Prawirodirjo. Pada tahun 1826 pasukan Ali Basyah Sentot
Prawirodirjo ini berhasil mengalahkan tentara Belanda di daerah-daerah bagian
barat (Kulo Progo dan sekitarnya). Sementara itu di Gunung Kidul pasukan
Diponegoro yang dipimpin oleh Pangeran Singosari juga mendapatkan berbagai
kemenangan. Benteng pertahanan Belanda di Prambanan juga berhasil diserang oleh
pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Tumenggung Suronegoro. Plered sebagai pos
pertahanan Diponegoro juga sering mendapat serangan Belanda. Namun dapat
dipertahankan oleh pasukan Diponegoro di bawah Kertopengalasan.
Seperti telah
diterangkan di atas bahwa perlawanan Pangeran Diponegoro mendapat dukungan luas
dari para bupati di mancanegara (istilah mancanegara untuk
menyebut daerah-daerah yang umumnya sekarang di luar Yogyakarta). Misalnya
terjadi perlawanan sengit di Serang (daerah perbatasan antara Karesidenan
Semarang dan Surakarta). Daerah-daerah mancanegara bagian timur terus melakukan
perlawanan di bawah para bupatinya, misalnya di Madiun, Magetan, Kertosono,
Ngawi, dan Sukowati. Sementara mancanegara bagian barat meluas di wilayah
Bagelen, Magelang dan daerah-daerah Karesiden Kedu lainnya.
Benteng
Stelsel pembawa petaka
Perlawanan pasukan
Pangeran Diponegoro senantiasa bergerak dari pos pertahanan yang satu ke pos
yang lain. Pengaruh perlawanan Diponegoro ini semakin meluas. Perkembangan
Perang Diponegoro ini sempat membuat Belanda kebingungan. Untuk menghadapi
pasukan Diponegoro yang bergerak dari pos yang satu ke pos yang lain, Jenderal
de Kock kemudian menerapkan strategi dengan sistem “Benteng Stelsel” atau
“Stelsel Benteng”.
Dengan strategi
“Benteng Stelsel” sedikit demi sedikit perlawanan Diponegoro dapat diatasi.
Dalam tahun 1827 perlawanan Diponegoro di beberapa tempat berhasil dipukul
mundur oleh pasukan Belanda, misalnya di Tegal, Pekalongan, Semarang, dan
Magelang. Masing-masing tempat dihubungkan dengan benteng pertahanan. Di
samping itu Magelang dijadikan pusat kekuatan militer Belanda.
Dengan sistem “Benteng
Stelsel” ruang gerak pasukan Diponegoro dari waktu ke waktu semakin sempit.
Para pemimpin yang membantu Diponegoro mulai banyak yang tertangkap. Tetapi
perlawanan rakyat masih terjadi di beberapa tempat. Pasukan Diponegoro di
Banyumeneng harus bertahan dari serangan Belanda. Di Rembang di bawah pimpinan
Raden Tumenggung Ario Sosrodilogo, rakyat mengadakan perlawanan di daerah
Rajegwesi. Namun perlawanan di Rembang dapat dipatahkan oleh Belanda pada bulan
Maret 1828. Sementara itu pasukan Diponegoro di bawah Sentot Prawirodirjo
justru berhasil menyerang benteng Belanda di Nanggulan (daerah di Kulon Progo
sekarang). Dalam penyerangan ini berhasil menewaskan Kapten Ingen. Peristiwa
penyerangan benteng di Nanggulan ini mendapat perhatian para pemimpin tempur
Belanda. Pasukan Belanda dikonsentrasikan untuk mendesak dan mempersempitkan
ruang gerak pasukan Sentot Prawirodirjo dan kemudian mencoba untuk didekati
agar mau berunding. Ajakan Belanda ini berkali-kali ditolaknya. Belanda
kemudian meminta bantuan kepada Aria Prawirodiningrat untuk membujuk Sentot
Prawirodirjo. Pertahanan hati Sentot Prawirodirjo pun luluh, dan menerima
ajakan untuk berunding. Pada tanggal 17 Oktober 1829 ditandatangani Perjanjian
Imogiri antara Sentot Prawirodirjo dengan pihak Belanda. Isi perjanjian itu
antara lain:
1).Sentot Prawirodirjo
diizinkan untuk tetap memeluk agama Islam,
2).Pasukan Sentot
Prawirodirjo tidak dibubarkan dan ia tetap sebagai komandannya,
3).Sentot Prawirodirjo
dengan pasukannya diizinkan untuk tetap memakai sorban,
4).Sebagai kelanjutan
perjanjian itu, maka pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot Prawirodirjo dengan
pasukannya memasuki ibu kota negeri Yogyakarta untuk secara resmi menyerahkan
diri.
Penyerahan diri atau
tertangkapnya para pemimpin pengikut Pangeran Diponegoro, merupakan pukulan
berat bagi perjuangan Pangeran Diponegoro. Namun pasukan di bawah komando
Diponegoro terus berjuang mempertahankan tanah tumpah darahnya. Pasukan ini
bergerak dari pos yang satu ke pos yang lain. Belum ada tanda-tanda perlawanan
Diponegoro mau berakhir. Belanda kemudian mengumumkan kepada khalayak pemberian
hadiah sejumlah 20.000 ringgit bagi siapa saja yang dapat menyerahkan Pangeran
Diponegoro baik dalam keadaan hidup maupun mati. Tetapi nampaknya tidak ada
yang tertarik dengan pengumuman itu.
Jalannya Perang
Saat menghadapi Belanda, Pangeran Diponegoro menggunakan strategi perang
gerilya dan memusatkan pertahanannya di Goa Selarong. Penggunaan strategi
perang gerilya ini terbukti cukup berhasil karena pasukan Diponegoro mempu
mendesak Belanda hingga ke daerah Pacitan.
Belanda yang mulai kewalahan menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro akhirnya
menerapkan strategi benteng stelsel, yaitu dengan mendirikan beberapa benteng
di daerah yang sudah berhasil dikuasai dan menghubungkan tiap benteng dengan
jalan sehingga akan memudahkan komunikasi.
Penggunaan strategi benteng stelsel oleh belanda mampu mempersulit pergerakan
pasukan Diponegoro sehingga setiap pasukan hanya bisa bertahan di daerah
masing-masing. Banyak pasukan Pangeran Diponegoro yang tertangkap, terbunuh,
maupun menyerahkan diri karena terus terdesak. Meskipun terus terdesak,
Pangeran Diponegoro bersama para pendukung fanatiknya terus melakukan
perlawanan.
Akhir
Perang Diponegoro
Tahun 1828, Kiai Mojo salah satu penguasa pendukung
Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dan di asingkan ke Minahasa
sampai wafatnya. Setahun kemudian, Sentot Prawirodirjo menyerah kepada belanda
dan bersama pasukannya dikirim ke Sumatera Barat untuk memadamkan perlawanan
Tuanku Imam Bonjol. Namun Sentot Prawirodirjo akhirnya ditangkap oleh belanda
dan diasingkan ke Bengkulu sampai akhir hayatnya karena ia dan pasukannya malah
memihak kepada Tuanku Imam Bonjol.
Meskipun terus terdesak, Pangeran Diponegoro bersama para pendukung fanatiknya
terus melakukan perlawanan meski pemerintah Belanda menjanjikan uang sebesar
20.000 ringgit bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya hidup atau mati.
Jendral De Kock sebagai panglima tertinggi pasukan Belanda terus berupaya
membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding dengan Belanda. Akhirnya
Pangeran Diponegoro menerima tawaran tersebut dan perundingan dilaksanakan di
Magelang, tanggal 28 Maret 1830. Namun ketika proses perundingan sedang
berlangsung, secara licik Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. Pangeran
Diponegoro kemudian dibawa ke Batavia, kemudian diasingkan lagi ka Manado, lalu
dipindahkan ke Makassar sampai beliau wafat pada tanggal 8 Januari 1855. Sejak
penangkapan Pangeran Diponegoro secara licik oleh Belanda tersebut, maka
berakhir pula lah sejarah panjang Perang Diponegoro yang
sangat legendaris tersebut.
Kesimpulan
:
A. Kedatangan bangsa
Belanda di Kepulauan Maluku dan pendirian persekutuan dagang VOC hingga pemberlakuan sistem
monopoli perdagangan banyak menimbulkan penderitaan, kegelisahan, dan
permusuhan untuk rakyat Maluku. Pada bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat
Maluku di Saparua yang dipimpin oleh Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura.Tetapi
Pada bulan Oktober 1817, pasukan Belanda mulai menyerang rakyat Maluku secara
besar-besaran hingga dapat memadamkan perlawanan rakyat dan menangkap Kapitan
Pattimura (tahun 1817) yang kemudian dihukum mati pada tanggal 16 Desember
1817.
B. Padri adalah peperangan yang berlangsung di
daerah Minangkabau (Sumatra Barat) dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan
Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838. Perang ini berawal dari konflik
internal antara kaum adat dengan kaum Padri (orang-orang yang ingin meluruskan
ajaran Islam).
Perang ini terjadi dalam dua periode, yaitu:
1. Periode I 1803-1821 (Perlawanan kaum Padri dengan kaum Adat)
2. Periode II 1821-1838 (Perlawanan kaum Padri dengan Belanda).
Dalam perang melawan Belanda, dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
a) Tahap I 1821-1825 (meningkatnya perlawanan rakyat)
b) Tahap II 1825-1830 (perlawanan menurun, Belanda fokus pada perang Diponegoro
di Jawa Tengah)
c) Tahap III 1830-1838 (Kaum Padri mengalami kekalahan)
Akhir dari perang padri ditandai dengan semakin banyaknya wilayah kekuasaan
kaum padri yang jatuh ketangan Belanda, selain itu juga menyerahnya Tuanku Imam
Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah kepada Belanda Pada tanggal 25 Oktober
1837.
Dengan demikian, secara umum perlawanan kaum Padri dapat dipatahkan pada akhir
tahun 1838. Maka kekuasaan Belanda mulai sejak itu ternanam di Sumatra Barat.
C. Perang
Diponegoro adalah perang yang berlangsung antara tahun 1825-1830 di daerah Jawa
Tengah. Perang ini disebabkan karena pihak Belanda membangun jalan dari
Yogyakarta ke Magelang yang melewati makam leluhur pangeran Diponegoro . Dalam
peperangan yang berlangsung lima tahun ini dimenangkan oleh pihak Belanda .
Setelah kekalahan tersebut pangeran Diponegoro di tangkap dan diasingkan ke
Manado dan dipindahkan ke Makassar sampai beliau wafat tanggal 8 Januari
1855.Perang ini juga mengakibatkan banyak korban tewas dari pihak Belanda
maupun pribumi.
Daftar Pustaka :
……Sejarah Indonesia
XI .Jakarta: Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2014
http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/02/sejarah-perang-diponegoro.html
http://www.Perlawanan Pattimura Terhadap
Kolonial Belanda (VOC) Buih Kata.html
http://www.SEJARAH PERANG PATTIMURA sarisejarah.com - Artikel, materi, dan bank
soal sejarah.html